Posted in Cerita-cerita | 4 Comments »
(sebuah tulisan singkat)
samuel mulia. bagi para pembaca Kompas pasti familier dengan satu nama ini. betapa tidak, dia kan salah satu kolumnis tetap di Edisi hari minggu. begitupun samuel mulia juga mempunyai kolom di Kompas komunity (suatu komunittas dunia maya yang terdapat di kompas.com. yang awalnya bernama Kolom Kita -KoKi). samuel mulia mendeskripsikan (atau melabeli diri??) sebagai penulis mode dan gaya hidup.
saya tidak ingat kapan pertama kali berkenalan dengan sosok penulis satu ini. namun tidak membutuhkan waktu lama keberadaannya menjadi salah satu penulis favorit saya. saya pun bahkan tidak ingat artikel pertamanya yang saya baca. yang saya sangat suka adalah kelugasan dan kejujuran dalam tiap tulisannya (tentu saja kita bisa berpikir bahwa itu sekedar ‘trik dagang” agar tulisannya laku dibaca orang..hehehe). namun saya lebih memilih tidak seperti itu.
ciri khas tulisan samuel mulia adalah adanya tokoh “teman saya” (dan bahkan menjadi sebuah tokoh pendamping utama. karena di setiap tulisan samuel selalu hadir, dan “memicu” samuel untuk melakukan perenungan. apakah tokoh ini benar2 ada? dan siapa sajakah mereka itu?? hanya samuel yang tahu..)
namun yang paling membuat saya “jatuh cinta” dan menunggu2 tulisan samuel adalah karena kelugasan dan gaya tulisannya. isi tulisan lebih sering berupa ajakan evaluasi diri. dari hal2 kecil yang ditemui (misal antri di loket) sampai peristiwa2 besar (seperti kasus ryan) semua dilihat dengan kacamata samuel. dan ujung2nya adalah “mentertawakan” diri sendiri (plus ajakan untuk orang lain).
di akhir tulisan samuel selalu mencoba mengajak orang untuk berkaca. mencoba mengajak orang untuk evaluasi diri dan kembali menjejak bumi. seringkali sih ungkapan2 dan sindirannya memerahkan telinga. namun memang harus digituin (lha wong udah merah padam aja masih banyak yg bebal).
terimakasih bung samuel mulia. karena tulisan anda itu menyadarkan saya bahwa tidak semua kebodohan dan ketololan itu “layak dan pantas” untuk kita lakukan. jika sudah ada yang melakukan…
Posted in Cerita-cerita | 3 Comments »
apa arti aman bagi Anda?apa pula arti pengaman bagi Anda?
bagi saya, aman berarti situasi dimana saya merasa tidak ada yang perlu dicemaskan, saya merasa terlindungi dan secara psikis maupun fisiologis tidak ada ancaman. sementara pengaman adalah alat-alat atau tindakan yang saya perlu lakukan agar saya senantiasa berada dalam situasi aman.
jujur saja selama ini saya tidak pernah benar-benar peduli atau berpikir tentang bagaimana agar saya selalu aman. bagi saya apa yang ada, itulah yang saya “telan”. saya cenderung untuk tidak terlalu mencemaskan dan mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di masa depan (secara saya juga ga tau akan berapa lama kan hidup?? hehehe). namun ada peristiwa baru-baru ini yang “menyentakkan dan menyeret” saya terbangun dari ke-naif-an diri. suatu kejadian yang membuat saya berpikir dan berhitung ulang mengenai pandangan saya tentang arti dan kepentingan pengamanan.
sekitar tiga minggu yll. account FS saya ini di bajak orang. pelaku dengan “baik hati” merubah content page, primary picture, BG picture (yang ga tanggung2..diganti pake Miyabi-Maria Ozawa). namun bukan itu yang paling “keren”. pelaku juga berbaik hati dengan memberikan comment kepada beberapa teman saya (yg kebetulan cewek) dengan kata-kata yang “oke” punya. namun justru disinilah kesalahan terbesarnya (apakah itu memang benar suatu “kesengajaan” seperti yg kemudian diakui oleh pelaku? well, we’ll never know what’s inside the heart). karena salah satu korban adalah adik dr sobat saya sejak kuliah. kemudian karena tidak terima dengan “perlakuan” saya, dia komplain kepada sang kakak-yang kemudian dengan segera meneruskan komplain itu kepada saya. kemudian dengan segera saya mengambil tindakan…(login FS ternyata password sudah diganti..akhirnya pake fasilitas lupa pswd dech). nah, cerita selanjutnya di skip saja. toh itu ga penting koq..
saya kemudian menyadari betapa beruntungnya saya. karena semenjak dahulu saya selalu membedakan password untuk account2 saya. semua account e-mail, friendster dan facebook tidak ada yang sama (untungnya saya tidak mengalami kepikunan dini..hehe:-) Thx Lord ). alhasil beliau tidak berhasil masuk ke account lain (atau mungkin memang tidak berniat begitu kali ya…cuman pengen memberi saya “pelajaran penting” saja ). jika password saya sama..saya juga ga tau apakah saya masih bisa “menyelamatkan” account saya (walo klo gagal pun saya tinggal bikin account baru..hehehe). tapi yang lebih besar adalah… jika ternyata dengan menguasai account saya yang lain pelaku bertindak lebih jauh.. saya sadar bahwa saya sangat beruntung. terhindar dari hal yang lebih jauh.
blessing in disguise .. hwehehe pelajaran pentingnya adalah… sepertinya saya harus lebih menaruh perhatian terhadap upaya pengamanan. bukan semata kepada asset saya, tapi secara lebih luas… to thoose who’s important for me. Thank you very much.
Posted in Cerita-cerita, kontemplasiku | 2 Comments »
hei..belum seminggu “kutemukan” lagu bagus milik Dewi Lestari (Malaikat juga tau)
eh..semalam tmn sekamarku dengerin radio n “nemu” lagu asyik punya Marcell..
liriknya pun berupa balasan atas lirik lagunya Dewi Lestari….
well..sebagai penikmat musik..ak seneng aja model berantem yang cerdas begini.
cerdas karena tidak asal saling komentar di infotaintment.
cerdas karena berantemnya ini menghasilkan duit.
cerdas karena memberikan inspirasi bagi orang lain yg sedang berantem (klo diajakin berantem mulu padahal jelas2 ga mau itu istilahnya apa ya??).
cerdas karena itu membuktikan mereka artis yang cerdas dan bukan karbitan
hayoo…siapa lagi yg mo mengadopsi berantem gaya baru ini??
![]()
*latest updates : judul lagu Marcell itu : Pantaskah
Posted in komentar | 3 Comments »
liburan lebaran ini..ak berhasil membayar dua hutang dari sekian yang pernah terlontar dari mulutku…
yang pertama adalah ke oom gentho..(kmrn ngobrol byk selama hampir 3 jam. jd lumayan tau seluk beluk sisi lain hidup hehehe)
yang kedua adalah sore tadi. kubawakan tanaman yang diinginkan oleh ibu dari salah satu mantan saya….
sudah…legalah saya… setelah ini saya bisa terbang dengan lebih “enteng” lagi…
Terimakasih Bapa..Kau berikan ku kesempatan untuk memenuhi itu..
Posted in Cerita-cerita | 4 Comments »
“sometimes the heart sees what is invisible to the eyes”
what does your heart sees??
what do you see?
do your eyes tell you something?
(key: block all the text here. n please share what you get after it…)
Posted in kontemplasiku | No Comments »
God, so often i have
seen and heard You
between smiles and
singing and laughter.
But I am beginning to see
I learn to know You best
between sobs.
(doa ini berasal dari e-mail mbak Esti. kakak di dunia maya yang begitu baik. mengirimi doa seperti ini hampir setiap hari. terimakasih ya mbak..Tuhan Berkati mbak dan keluarga)
Posted in kontemplasiku | 3 Comments »
Sadar atau tidak..penilaian kita terhadap sesuatu itu dipengaruhi oleh persepsi yang kita bangun akan hal tersebut. Misalnya jika persepsi kita tentang makanan yang baik itu hanya makanan yang tersedia di restoran, maka kita akan menilai makanan yang dijajakan pedagang kaki lima sebagai makanan yang tidak baik (sehat).
Hal ini juga berlaku dalam kita menilai orang. Kadang kala persepsi kita juga dipengaruhi oleh pendapat umum atau orang-orang di lingkungan kita. Padahal tidak jarang pendapat umum itu sesuatu yang direkayasa dan tidak mewakili gambaran keseluruhan. Saya punya pengalaman dengan kasus ini. Saya adalah seseorang yang melewatkan masa kecil dan remaja di desa. Sebenarnya ini tidak berkorelasi secara langsung dengan ke-desa-an saya sih.. di daerah saya ada seorang “jagoan”. Dia yang paling “jago” diseantero kecamatan. Tentu saja, jagoan yang saya maksud identik dengan ketidak-baikan. Sebut saja jagoan kita ini Gentho. Oom Gentho ini secara usia sudah cukup tua. Kalau sekarang mungkin sudah 50-an tahun. Karena setting cerita ini pertengahan 90-an. Maka mungkin usianya saat itu 40-an. Oom Gentho ini tidak menikah (g tau skr). Kerjaannya sehari-hari secara “resmi” adalah pengojek. Namun dalam banyak kesempatan Oom Gentho ini lebih sering terlihat “duduk melingkar sambil memegang beberapa lembar kartu bersama beberapa temannya” alias berjudi. Saya sendiri terus terang belum pernah sedekat itu..namun kalo dari jauh sih botol yang terlihat bukan botol softdrink ataupun teh… ehehehe.. belum lagi mata-nya yang selalu terlihat merah (padahal g lag liat kain warna merah..hehehe…emangnya banteng??)
Dengan deskripsi yang seperti itu, pasti setiap orang yang “waras” dan “baik-baik” pasti tidak sudi bergaul dengannya. Pasti dong..nanti kan image-nya jadi jelek.. namun toh demikian, jujur saja. Saya bisa sampai disini saat ini dalam kondisi ini juga “dipicu” perbuatannya juga (ha?? Jgn ngeres dulu..tunggu yah..). Oom Gentho ini sama keluarga kami baik. Jika kebetulan melintas dan melihat nenek saya baru pulang dr ladang pasti si Oom Gentho ini akan mengantar nenek saya sampai rumah. Oom Gentho ini juga kenal baik dengan budhe dan tante saya. Cukup sering juga dia mampir ke rumah kami.
Waktu itu di suatu sore..saya sedang bermain dengan adik2 saya di halaman. Dia mampir/mengantar nenek yang baru pulang dari ladang. Sebelum dia pulang dia sempat mendatangi saya dan berkata seperti ini :” hei dik, ak tahu siapa teman2mu. Aku tahu teman2mu itu suka ngapain n bagaimana. Awas kalo kamu ikut-2 an. Bukan bapakmu atau ibumu, tapi ak yang akan pertama menghajarmu jika kutahu kamu ikutan mabuk2an. Mabuk itu akar dari segala hal yang tidak baik. Nanti setelah mabuk kamu make ngobat, ganja dan seterusnya. Jangan sekali-kali kamu lakukan. Lihatlah aku, aku jadi seperti ini karena sudah terlanjur jauh terperosok. Lihatlah..aku tidak ada artinya, bahkan sekedar melihat pun orang tidak sudi. Jangan kamu sia-siakan hidupmu. Buatlah ibumu bangga!”
Saya tercekat dan tidak bisa berkata apa-2 selain Ya. Sungguh saya tidak menduga bahwa seorang Gentho seperti dia ternyata juga punya sisi lain. Saat itu saya berjanji bahwa saya tidak akan menyentuh minuman keras kecuali saya sudah cukup yakin saya mampu berhenti dan berkata tidak untuk mabuk. Saya sungguh beruntung, karena kejadian itu terjadi tepat ketika saya sedang ABG n beranjak remaja. Dimana sifat keingintahuan dan “pemberontakan” (krn pengen dianggep udah dewasa) sedang berkobar-2.
Saya sungguh tidak mengira bahwa orang seperti dia ternyata punya kepedulian seperti itu. Bahwa ternyata orang yang dianggap tak berguna pun sebenarnya dalam hatinya tidak ingin begitu. Bahwa sebenarnya merekapun mengerti apa yang mereka lakukan itu tidak baik. Bahwa merekapun sebenarnya ingin menjadi “seseorang”. (bbrp tahun berselang saya baru tahu dari tante saya bahwa Oom Gentho ini dulu naksir berat sama ibu saya. Tante saya lebih dulu kenal dia. Namun saat itu ibu saya sudah menikah dengan bapak saya dan sudah punya anak-yaitu saya-) Karena cinta kepada ibu sayakah dia melakukan itu semua? (jd inget Severus Snape..hehehe..tp koq jauh bgt y nyari analoginya?? Dasar sok artis neh..).
Semenjak kejadian itu saya jadi sering ragu dalam menilai orang. Saya cenderung menjawab tidak tahu ketika disuruh menilai orang. Mungkin benar kata orang bijak, pada dasarnya semua manusia itu baik. Yang jelas saya sangat bersyukur..karena Tuhan mengirimkan malaikat itu tepat pada waktunya.. Memang semua karya-Nya indah.
Saat saya sudah selesai kuliah dan mulai bekerja..saya dengar berita bahwa Oom Gentho sudah “pension”. Dia sekarang tidak pernah ngojek. Kesehariannya adalah mengurus ladang. Sepertinya dia sudah bertobat. Dan saya?? Apa yang telah saya lakukan untuk membalas kebaikan tersebut?? Sejauh ini masih belum. Ada keinginan saya untuk datang ke rumahnya saat Hari Raya Lebaran nanti. Bagaimanapun, tanpa “andil” dia itu..saya tidak yakin akan sampai disini.
(Tuhan, terimakasih untuk moment itu. Kau selamatkan saya dari ketersesatan yang terlalu jauh. Saya mohon, berikanlah tuntunan-Mu pada Oom Gentho. Berikanlah kebahagiaan baginya. Amin)
Posted in Cerita-cerita | 1 Comment »
Seminggu yll (Rabu, 23/07/08) saya dan beberapa kawan menonton Batman : The Dark Night. Film ini seru banget bagi saya. Apalagi nontonnya pakai fasilitas buy 1 get 1. jadi cm bayar separuh harga..ehehehe (dasar pelit ini sih). Dari segi cerita (alur), tekhnologi yang masih “masuk akal”, membuat Film berdurasi 2.5 jam ini tidak terasa membosankan. Belum lagi acting para actor yang paten punya (4 tumbs up bwt Heath Ledger..acting sbg Joker-nya mantabs banget..sayang..hbs nih g bakal shooting lg dy). Beberapa kali saya bergidik..ketika adegan “sadisme” Joker (misalnya pas menyambangi markas gangster kulit hitam…duh..lupa dech namanya).
Namun toh banyak juga pelajaran yang bisa saya ambil. Misalnya ketika Joker bilang : I man of my word.. Joker memberi contoh bagaimana seorang “pria” seharusnya. Melakukan yang dikatakan, walau sepahit apapun itu konsekuensinya (ya g tau juga sih..ak g se-“tegar” Joker soalnya..eh ini juga bisa dikaitkan dengan posting berjudul janji lho..).
Bagaimana Joker tidak tanggung-tanggung ketika melakukan aksinya. Perencanaan yang rapi (walau sangat “gila”) dan selalu memperhitungkan “hampir” semua scenario (saya katakana hampir, soalnya Joker melupakan satu variable yaitu : pada dasarnya selalu ada kasih dalam jiwa setiap orang. Ini contohnya pada adegan di kapal feri..ketika penduduk dan narapidana yg mau dievakuasi dihadapkan pada pilihan : meledakkan kapal lain atau diledakkan oleh kapal lain).
Namun satu hal yang paling saya pelajari dari Joker adalah bagaimana dia memilih lawan yang terkuat dan menaklukannya. Di sini saya belajar arti prioritas. Bahwa ada banyak pilihan dan ada banyak cara untuk menang. Namun kalo kita ingin kemenangan terbesar, kita harus tahu “sasaran” mana yang harus dibidik dan bagaimana kita akan menaklukannya (misalnya ketika dia “mengajari” gangster Gotham yg hanya haus uang -dengan cara membakar uang satu kapal-, dan tentunya bagaimana dia bisa “merekrut” Harvey Dent). Begitulah yang terjadi dalam hidup, kadang dihadapan kita terbentang sekian pilihan yang “menggoda”. Kita harus ingat apa yang menjadi tujuan hidup dan kemenangan terbesar yang ingin kita raih nantinya.
Saya juga belajar dari Alfred tentang arti kebenaran. Bahwa kadang kala kita “harus” membiarkan suatu hal berjalan seperti adanya. Kadang kala kita harus mengambil tindakan demi kebaikan semuanya (sekalipun itu berat, dan bahkan melanggar janji. Contohnya ketika dia tidak menyampaikan surat yg ditulis Rachel untuk Bruce). Bahwa akan lebih baik menyembunyikan kenyataan demi menjaga suatu “kenangan baik” (“bila..yang tertulis untukmu adalah yang terbaik untukku, kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku…” lho??koq malah lagunya Samsons yg muncul yah??wehehehe).
Bruce sendiri membuat saya sadar bahwa memang kita punya batas. Ada suatu masa dalam hidup ketika kita merasa lelah dan capek dengan semuanya..dan dalam situasi seperti itu, peran orang terkasih adalah sangat tak terbantahkan. Kita bisa dengan pongahnya mengatakan : OK I will be fine.. tapi kalau mau jujur, kehampaan kadang menyapa dalam keheningan. Dan terkadang kita harus merelakan sesuatu yang memang tidak bisa kita perbaiki seperti adanya, sekalipun kita telah berusaha sedemikian rupa. Merelakan bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana dan kemauan kita.
Masih banyak nilai yang bisa saya petik dari sebuah film itu. Seperti misalnya kita harus percaya pada orang yang tepat. Bahwa ada banyak kondisi dan motif yang bisa membuat orang melakukan sesuatu (bahkan ketika sebenarnya dia sangat tidak mau).
Lalu apa maunya sih? Setelah SOK kontemplatif begini?? Ya sekedar share aja koq..intinya adalah : film nya bagus..worthed banget-lah ditonton pas weekend (sama siapa pun itu J) saya-nya aja yg sedang sok mellow n maunya sok (nampak) bijak..
Selamat menonton (kabarnya musuh Batman berikutnya diperankan oleh Johny Depp…whiyy…musti nonton nih-sekalipun hrs dr DVD bajakan-)
Posted in Cerita-cerita | 3 Comments »
Siapa yang belum pernah berjanji??
Saya rasa tak ada seorangpun yang tidak pernah (kecuali bayi/balita). Ketika seseorang sudah mempunyai hubungan social / relasi dengan individu lain, sebuah janji akan terjadi sebagai suatu bentuk upaya untuk memastikan sebuah rencana yang disepakati akan dilakukan. Pada awalnya janji hanya sekedar ucapan/lisan saja. Namun seiring perkembangan kebudayaan, ada upaya-upaya untuk mendokumentasikan suatu janji tersebut guna mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul di masa mendatang.
Saya tidak akan bicara mengenai proses pendokumentasian janji tersebut. Saya justru lebih tertarik dengan cara pandang/sikap pria dan wanita terhadap suatu janji. Sepanjang sejarah kebudayaan, wanita akan selalu membuat pria berjanji. Mengapa demikian? Karena wanita merupakan pihak yang “lemah”. Sejak permulaan kebudayaan, posisi wanita adalah sebagai penjaga keluarga. Sementara pria adalah pencari penghidupan bagi keluarga (refer to Allan & Barbara Pease; Why Men Lie & Women Cry). Karena sifat dan pembagian tugasnya itu, maka wanita secara naluriah akan mencari “pegangan” agar prianya selalu kembali padanya. Nah dari kebutuhan inilah, maka wanita kemudian cenderung (kalau tidak boleh dibilang selalu) menciptakan kondisi agar prianya berjanji padanya. Sungguh suatu hal yang normal, karena kan prianya sebagai gantungan kehidupan dia dan anak-2nya.
Suatu sore saya terlibat perdebatan tentang konsep janji ini dengan kawan saya. Sangat kebetulan bahwa kawan saya ini seorang wanita J. Awalnya kawan saya ini berkisah tentang kekasihnya yang susah berjanji. Dia sedikit mengeluhkan hal itu karena dalam perspektifnya hal itu menunjukkan ketidaksiapan kekasihnya untuk “terikat” dalam suatu komitment. Memang kekasihnya tidak selalu tidak mau berjanji. Kawan saya bilang bahwa kekasihnya sulit berjanji untuk hal-2 besar yang dia tidak bisa memastikan akan berhasil melakukannya. Kawan saya tahu bahwa memang hal itu mungkin memang berat, namun yang menjadi point baginya (dan sepertinya wanita pada umumnya) adalah KESEDIAAN kekasihnya itu untuk berjanji (baca: berkomitment). Masalah hasil bagi kawan saya itu tidak menjadi perhatian utama. Penting baginya kekasihnya mau berjanji dan berusaha untuk itu, tidak berhasil tidak mengapa. Karena usahanya itu yang penting.
Sampai disini saya masih berusaha keras untuk menjaga mulut saya terkatup, menjaga telinga saya tetap menyimak dan tidak berusaha berpikir untuk memberikan suatu sanggahan. Sungguh tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Apalagi ketika kita merasa punya cukup amunisi untuk melakukan “serangan balik” J. Saya langsung teringat buku : Man from Mars, Woman from Venus (walo saya g inget pernah baca..ataupun inget apa saja yg ada di dalamnya :D). saya langsung tersadar bahwa memang “itu” yang dibutuhkan wanita (makanya sering ada kisah tentang wanita yang merasa dibohongi, ditipu oleh kekasihnya..)
Saya jadi teringat diri saya sendiri. Saya juga cenderung untuk tidak memberikan suatu janji kepada orang2 di sekeliling saya. Saya cenderung memilih untuk to DO not to PROMISE. Dalam benak saya, saya tidak mau mengecewakan mereka yang saya berikan janji jika saya tidak berhasil memenuhi janji itu. Basicnya pria itu tidak mau gagal. Pria akan merasa tidak berguna jika mereka tidak berhasil melakukan apa yang pernah dikatakannya. Nah, upaya untuk tidak gagal itu adalah dengan tidak berjanji.
Itulah yang saya sampaikan kepada kawan saya. Bahwa mungkin kekasihnya juga berpikiran seperti saya (padahal siapa sih saya?? Sok Yes bgt y?? wekekeke)
jadi??? Sepertinya saya harus bersikap seperti laiknya pria di mata wanita. Jika saya ingin bernilai di mata wanita, saya pun harus menjadi pria yang bernilai di mata wanita. Harus berani mengatakan “YA” ketika ditodong dengan suatu janji, serta melakukan upaya terbaik untuk pemenuhan janji tersebut (atau sebenarnya tidak perlu sampai ditodong yah…tapi pastinya sih jangan OBRAL JANJI kan?? toh ini bukan pilkada hehe)
Posted in cinta & lika-liku | No Comments »